Inilah pelaksanaan ritual benda keris pusaka

Keris
Keris merupakan perlambang dan memiliki muatan-muatan religius yang dapat dilihat dari bentuk dapur (tiap-tiap rincikan) dan pamornya. Keris dianggap sebagai pertemuan antara sang guru bakal (pasir besi dari bumi) dan guru dadi (batu meteor yang jatuh dari langit) sehingga merupakan satu yang mendasar dari bersatunya hamba dan Tuhannya (curigo manjing warongko jumbuhing kawula lan gusti) sebagai sarana sesaji hingga saat ini masih dapat dilihat pada upacara-upacara keagamaan di Jawa dan Bali.

Memang keris tak lepas dari nilai spiritual, namun setiap keris selalu diciptakan oleh sang empu untuk hal yang baik. Ada yang berfungsi supaya omongan (pembicaraan) selalu dipercaya orang, menambah kewibawaan, memperoleh rezeki dan sebagainya. Masyarakat Islam Jawa terutama di desa Trowulan yang meyakini keris sebagai benda bertuah dan memiliki kekuatan, ia akan melakukan ritual sesaji untuk memuja dan untuk mengagumi isi yang ada di dalam keris. Hal ini tidak hanya dalam lingkup keris saja, tetapi pada semua jenis benda yang dianggap memiliki kekuatan gaib dan merupakan benda bertuah.

Diantara ritual-ritual yang paling umum dilakukan naik secara rutin maupun tidak terdapat beberapa ritual yang dapat diinventarisasi lewat pengamatan langsung. Berikut ini adalah pelaksanaan ritual tersebut beserta makna yang terkandung di dalamnya:

1. Ritual menjamasi pusaka
Ritual menjamasi pusaka atau yang sering disebut ritual jamasan pusaka dilakukan paling sedikit 1 kali dalam setahun, biasanya pada bulan Sura menurut penanggalan Jawa. Pada ritual ini keris-keris pusaka dibersihkan atau disucikan dengan cara dimandikan/dicuci dengan menggunakan air kembang 7 rupa (setaman) serta melalui ritual-ritual pembacaan doa oleh seorang pinisepuh, yakni seorang yang ahli dalam menjamas keris pusaka. Berdasarkan keterangan dari Bapak Budi lewat serangkaain wawancara, ritual jamasan ini pada dasarnya bertujuan untuk membersihkan/menyingkirkan daya-daya magis susulan yang mungkin saja terinduksi ke dalam sebuah keris pusaka. Ketika daya-daya magis yang tidak diinginkan tersebut sudah hilang, maka yang ada pada keris pusaka tersebut diyakini oleh si pengagem, ialah daya magis asli yang diinduksikan oleh Mpu si pembuat keris pusaka tersebut.

2. Ritual mengutuki keris pusaka
Ritual ini dapat dilakukan kapan saja dan sangat sederhana. Mengutuki keris ialah prosesi ritual pribadi seorang pengagem keris pusaka. Ritual ini diyakini mampu menambah keampuhan keris pusaka. Pengaruh magis-spiritual yang terpancar dari sebuah keris dapat dirasakan oleh seorang pengagem keris pusaka. Adapun hal-hal yang diyakini diperoleh lewat ritual ini adalah sebagai berikut:
  • Daya magis keris pusaka semakin kuat apabila sering dikutuki apalagi bila dilakukan secara rutin.
  • Seorang pengagem keris pusaka dapat mengerakkan/menggunakan daya magis keris pusaka untuk keperluan-keperluan tertentu, misalnya, untuk persiapan perang, menjaga keamanan rumah, menjaga keselamatan dalam perjalanan dan lain-lain.
  • Daya magis keris pusaka dapat memberi petunjuk atau dalam bahasa Jawa disebut wangsit, lewat petunjuk mimpi maupun penampakan langsung.
3. Ritual memberikan sesajen pada hari-hari tertentu
Ritual pemberian sesajen ini disebut juga ritual sandingan (bahasa Jawa). Dalam ritual ini keris-keris pusaka dipersonifikasikan sebagai perwujudan roh para leluhur atau dewata yang wajib diberikan sesajen. Sesajen ini dapat berupa seperangkat alat dan bahan yang sederhana sampai pada yang lengkap dan rumit. Sesajen tersebut diatas diberikan pada hari-hari tertentu yang menurut tradisi Jawa dikenal sebagai hari-hari baik. Adapun pelaksanaan ritual biasanya dilakukan setelah matahari terbenam (selepas maghrib). Adapun hari-hari yang diyakini sebagai hari baik tersebut ialah sebagai berikut:

a. Hari Kamis - malam Jumat Legi
Hari ini termasuk dalam hitungan sebagai hari Anggoro Kasih karena neptunya (perhitungan Jawa) untuk hari ini ialah berjumlah 11 (Jum‟at 8 dan Legi 3, jadi bila dijumlah menjadi 11). Angka sebelas dalam bahasa Jawa disebut sewelas yang dihubungkan dengan kata sak-welas, yang bermakna sebagai memohon belas kasih Tuhan (sak welas asihing Gusti – bahasa Jawa). Menurut keyakinan masyarakat Jawa malam Jum;at Legi ini adalah saat yang paling tepat untuk memohon sesuatu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini disebabkan orang Jawa yakin bahwa doa-doa permohonan banyak dikabulkan oleh Tuhan bila didoakan pada waktu tersebut.

b. Hari Kamis - malam Jumat Kliwon
Masyarakat di Jawa khususnya yang masih mempercayai perhitungan hari berdasarkan warisan leluhur sangat percaya bahwa malam Jum‟at Kliwon adalah malam yang keramat. Dari hasil wawancara dengan beberapa informan, peneliti mendapat informasi bahwa malam Jumat Kliwon ini dikeramatkan karena pada malam tersebut batas antara alam nyata dan alam astral terbuka.

c. Hari Senin - malam Selasa Kliwon
Malam Selasa Kliwon merupakan malam utama dari perhitungan hari Anggoro Kasih. Pada malam ini dipercaya bahwa daya cinta kasih Tuhan tercurahkan kepada umatnya. Masyarakat Jawa meyakini bahwa malam Selasa Kliwon adalah saat yang tepat untuk memohon cinta kasih Tuhan dalam bentuk pertolongan maupun perlindungan Tuhan. Keris-keris pusaka yang diyakini memiliki daya magis yang bersifat welas asih sebaiknya diberikan sesajen pada malam Selasa Kliwon.

d. Malam kelahiran sang pengagem keris pusaka
Para pengagem keris pusaka dari kelompok piyayi Jawa biasanya melakukan ritual sandingan bagi keris-keris andalan mereka pada malam kelahirannya (weton). Hal ini dilakukan dengan tujuan agar daya magis keris pusaka menyatu dengan diri/jiwa si pengagem pusaka atau menggunakan istilah Jawa yaitu manunggal roso. Para pengagem keris pusaka meyakini bahwa bila sebuah keris pusaka diberikan sesajen secara rutin pada hari kelahiran seorang pengagem maka daya magis keris pusaka
tersebut akan senantiasa menyatu dengan pribadi pengagemnya.

e. Malam 1 Suro
Malam 1 Suro merupakan malam yang paling dikeramatkan oleh masyarakat Jawa khususnya yang masih menganut paham kejawen. Di kalangan masyarakat Jawa yang sudah beragama Islam, malam 1 Suro disebut dengan malam 1 Muharram. Pada dasarnya malam 1 Suro ialah malam pergantian tahun dan seperti layaknya malam tahun baru, banyak masyarakat yang merayakannya.

4. Memberikan kalung bunga melati
Ritual pemberian rangkaian bunga melati yang dikalungkan pada keris pusaka (melati rinonce - bahasa Jawa) merupakan ritual yang kerap kali dilakukan terutama pada keris-keris pusaka andalan yang oleh pengagemnya diyakini memiliki daya magis yang lebih besar diantara keris-keris pusaka lain yang ia miliki. Memberikan rangkaian melati pada keris pusaka ini memiliki latar belakang sejarah yang cukup menarik untuk disimak. Pemahaman para priyayi Jawa tentang ritual ini tidak lepas dari cerita sejarah Babad Tanah Jawa tentang sepak terjang Adipati Jipang Panolan, Raden Arya Penangsang.

5. Mengolesi keris dengan minyak wangi
Minyak wangi merupakan piranti yang sangat akrab dengan aktifitas-aktifitas supranatural. Dalam pelbagai ritual keagamaan, bau-bauan yang harum merupakan hal yang tidak pernah terlewatkan. Bau harum bisa berasal dari asap dupa, kemenyan maupun hio, bisa pula berasal dari bunga-bunga tertentu, seperti melati, mawar, sedap malam dan kenanga. Namun, ketika membahas soal praktisnya, maka bau harus didapat dari minyak wangi. Dalam beberapa agama, seperti agama Islam misalnya, Nabi Muhammad SAW menyarankan umatnya untuk menggunakan minyak wangi ketika melaksanakan ibadah sholat.

0 Response to "Inilah pelaksanaan ritual benda keris pusaka"

Posting Komentar